Minggu, 10 Maret 2019

LELAKI IDAMAN


Aku sudah tertarik pada Mas Rindra sejak masa orientasi siswa baru. Jangkung. Rahang kuat. Hidung mancung. Cerdas. Aktivis pecinta alam.


            Satu hal yang membuatku enggan mendekatinya: adiknya.

            Ya, adik perempuannya, Reni, sekelas denganku. Walaupun sama cerdasnya, Reni sangat berbeda dari abangnya. Kecil mungil, ceriwis, lincah, dan ngetop luar biasa.

Reni dan kelompoknya bagaikan ‘kalangan bangsawan’, sedangkan aku termasuk ‘rakyat jelata.’

            Perbedaan ‘kasta’ itu membuatku mengubur dalam-dalam rasa sukaku pada Mas Rindra.

            Hingga suatu hari, saat pertandingan olahraga antarkelas.

Sambil menunggu pertandingan, teman-teman sekelas nongkrong di kantin.

Tak seperti biasa Mas Rindra bergabung dengan kami.

Saat itu rupanya Reni sedang kambuh tengilnya. Dengan santai ia menyuruh-nyuruh Mas Rindra.

            “Rindra, bawain tasku.”

            “Rindra, beliin minum.”

            Rindra ini, Rindra itu.

            Setelah memberi perintah, Reni terkikik-kikik karena puas mengerjai abangnya.

            Marahkah Mas Rindra?

            Tidak sama sekali. Diturutinya saja kemauan Reni. Dengan santainya ia bahkan mencangklong tasnya dan tas Reni di pundaknya. Ekspresinya menunjukkan dia abang yang sayang adik, walaupun adiknya sedang bertingkah.

            Saat itu aku membatin, aku ingin lelaki seperti ini.  Lelaki yang sayang keluarga pasti sayang pada wanitanya kelak, walaupun wanitanya merepotkan.

            Hingga Mas Rindra lulus, ia tak pernah tahu aku menyukainya.

            Ogah ah, adiknya itu enggak banget buatku!




Tulisan ini  diikutsertakan dalam event Cerita Cinta dari SMA yang diselenggarakan oleh Fiksiana Community.

                 
                 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar