Sabtu, 09 Maret 2019

WISUDA


“Habis ini tidak ketemu Mas Aji lagi, deh,” keluh Adisti.

Rahma hanya menatap sahabatnya itu dengan iba. Sudah hampir dua tahun ini Adisti naksir kakak kelas mereka itu, tapi tidak pede mendekatinya. Beraninya hanya mondar-mandir di depan kelas Mas Aji agar bisa melihat sekilas. Atau menonton dari kejauhan bila Mas Aji sedang berolah raga. Atau curi-curi melirik bila berpapasan.

 “Coba deh kamu duluan yang ngajak ngobrol. Mumpung dia belum lulus. Orangnya baik, kok.”

“Enggak beraniii…” ratap Adisti.

Rahma hanya bisa mencubit pipi Adisti. Gemas.

***

Rahma menunggu Ibu dan Bapak berangkat menghadiri wisuda Mas Endi dengan tak sabar. Kakaknya itu diwisuda hari ini, bersama dengan Mas Aji. 

Sepagian ini Ibu mencari-cari undangan wisuda yang sedianya harus dibawa orang tua wisudawan, namun undangan itu aman tersimpan dalam lemari Rahma.

Ada seseorang yang lebih membutuhkan undangan itu daripada Ibu dan Bapak.

“Ayo, buruan ganti baju, kita pergi ke wisudanya Mas Aji.” Rahma tak sabar, nyaris berteriak di telepon.

“Yang boleh masuk hanya undangan, Neng. Percuma kita ke sana kalau hanya duduk di emperan.”

“Aku punya undangannya. Kita bisa masuk. Cepetan. Kita ketemu di sana.”

***

Rahma memeluk Adisti ketika prosesi wisuda berakhir. Sahabatnya menangis, namun Rahma tahu, Adisti sudah mengikhlaskan Mas Aji. 






 Tulisan ini diikutsertakan dalam event Cerita Cinta dari SMA yang diselenggarakan oleh Fiksiana Community.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar