Minggu, 24 Juli 2016

WANGI MAWAR



          

Bau itu menyerbu hidung Hilda, nyaris membuatnya tercekik.


Bau wangi yang kini dibencinya: wangi mawar. Bunga kesayangan Bu Rose, ibu Krisna, kekasihnya. Kini, tiap kali Hilda melihat bunga mawar, ingatannya selalu melayang pada perempuan itu. Sayang sekali bukan ingatan yang menyenangkan.

Dari baunya saja ia tahu, Bu Rose sudah menunggunya di rumah kos. Diam-diam ia mengutuk dalam hati. Aduh, bau ini… Rumah kosnya saja masih tersembunyi di balik tikungan depan, namun bau mawar sudah tercium. Memangnya berapa galon parfum yang disemprotkan perempuan itu ke tubuhnya?

Tak sadar langkahnya melambat. Ia sungguh-sungguh tak ingin bertemu Bu Rose. Tubuhnya lelah, pikirannya penat. Saat ini ia hanya ingin tidur. Sejak Krisna diopname karena gangguan lambungnya kumat, sebelum dan sepulang kuliah ia mampir dulu ke rumah sakit. Ia baru beranjak ketika tiba saatnya ia mengajar. Ia tak tega meninggalkan murid-murid kecilnya, terutama yang sudah kelas 6 SD. Setelah semua urusan memberi les selesai, baru ia pulang ke pondokannya.

Kedatangan Bu Rose memuncaki segala rasa lelahnya. Bu Rose tak menyukainya, dan tak pernah bersusah-payah menutupinya. Perempuan itu selalu curiga Hilda “ada maunya” terhadap Krisna, putra kesayangannya itu. Hilda mendesah. Sayangnya Krisna sangat menyayangi dan menghormati ibunya.

Dari sela-sela pagar rumah kos, dilihatnya Bu Rose sudah menunggunya. Duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan, dandanan rapi tanpa cela. Teras rumah kos kecil sederhana di tengah perkampungan padat dan perempuan yang apik dan cantik itu bukanlah padanan yang pas. Ia lebih pantas duduk di sebuah café vintage yang tenang ditemani secangkir kopi yang harum.

Setelah membulatkan tekad, ia membuka pintu pagar.

Bu Rose mendongak mendengar pintu pagar terbuka. Ia mengernyit melihat Hilda seakan-akan ada sesuatu yang berbau busuk di hadapannya. Hilda menguatkan hati. Tak apa, batinnya, toh bukan pertama kali ini ia menangkap ekspresi itu di wajah Bu Rose tiap kali mereka bertemu. Namun tak urung dadanya terasa nyeri.

“Selamat sore, Bu,” sapa Hilda.

“Sore.” Bu Rose memandanginya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia mengangkat sebelah alisnya yang sempurna. “Dari mana saja, jam segini baru pulang?”

Bukan urusanmu. “Dari mengajar, Bu. Tadi ada jadwal les.”

Bu Rose memandangnya lagi. “Ditunggu dari tadi, baru nongol sekarang,” gerutunya.

“Maaf, Bu.” Ah, kenapa pula ia minta maaf?

Bu Rose mendengus.

“Bu Rose ingin bertemu saya?” tanya Hilda berbasa-basi.

“Ya iyalah,” jawab Bu Rose judes.

“Mari ke kamar saya saja,” ajak Hilda sambil membuka pintu depan.

Wangi mawar memenuhi seluruh penjuru kamar ketika Bu Rose menempati satu-satunya kursi di kamar Hilda dan si empunya kamar mengalah, duduk di tepi kasur yang terhampar di lantai. Setengah mati Hilda berusaha menahan diri agar tidak mendengus. Bau wangi ini memenuhi rongga hidungnya, membuatnya sesak napas.

Setelah mendehem, Bu Rose membuka percakapan. “Aku melihatmu di rumah sakit tadi.”

Hilda mengangguk. Ia menunggu. Kalau melihat, kenapa tidak menyapa? gerutunya dalam hati. Gengsi, ya?

Bu Rose memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Terima kasih kamu sudah telaten merawat Krisna.” Lalu ia berhenti.

Hilda menunggu lanjutan kata-kata Bu Rose dengan was-was. Ucapan terima kasih seperti ini biasanya ujungnya tidak enak. Nada suara seperti ini pernah didengarnya beberapa saat menjelang ia diberhentikan dari kantor tempat ia bekerja sebagai office girl dulu.

“Tak lama lagi Krisna melamarmu.”

Hilda terkesiap, terkejut campur bahagia. Ia tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut Bu Rose. “Sungguh? Kok Ibu tahu?”

Bu Rose mendelik ke arahnya. Sikap sinisnya kembali lagi. “Ya tahu dong, aku kan ibunya!”

Senyum Hilda meluntur. Hatinya bak diremas tangan tak kasat mata. “Ibu tidak suka kalau Krisna melamar saya,” simpulnya.

 “Aku tak punya pilihan lain. Aku ingin Krisna buru-buru menikah agar ada yang merawatnya sepeninggalku, namun Krisna selalu menolak gadis-gadis pilihanku. Sebaliknya, aku tahu gadis-gadis yang mengerubungi Krisna seperti gerombolan lalat itu hanya mau padanya bila Krisna sehat dan banyak duit saja. Seandainya ada pilihan lain... Sayangnya selama ini kulihat hanya kamu yang betul-betul peduli padanya.”

“Jadi pilihannya tinggal saya.”

Bu Rose mengangguk. “Pilihannya tinggal kamu.”

Hilda menegakkan tubuh. “Lalu untuk apa Ibu ke sini?”

Bu Rose mengernyit. “Maksudmu?”

Ayo Hilda, katakan saja. Kesempatan tidak datang dua kali.

“Krisna akan melamar saya, tapi Ibu tidak suka. Saya tidak perlu tahu kenapa Ibu keberatan Krisna menikahi saya. Kalau Ibu keberatan, Ibu cukup bilang saja pada Krisna, tidak perlu datang ke sini.”

Wajah Bu Rose memerah. Setelah menghela napas, perempuan itu berkata, “Aku harus tahu, harus yakin…”

“Bahwa Krisna tidak salah memilih saya?” Hilda mengangkat bahu. “Saya tahu Ibu sudah mengamati saya sejak lama. Mestinya Ibu sudah tahu cukup banyak tentang saya.”

Bu Rose menatap Hilda, tajam.

“Apa lagi yang Ibu ingin tahu tentang saya? Ayah saya bukan orang kaya, karena itu saya kuliah sambil mengajar. Itu pekerjaan paling ideal buat saya karena waktunya bisa saya atur sendiri, uangnya lumayan, dan saya suka anak-anak.”

“Kenapa tidak minta Krisna membayar uang kuliahmu? Krisna toh kaya.”

Hilda tertawa pahit. “Saya bukan pengemis. Saya kuat dan sanggup bekerja. Sejak dulu, sekarang, bahkan hingga nanti, seandainya kami menikah, saya tidak akan ongkang-ongkang kaki sambil menadahkan tangan. Pada Krisna, sekalipun.”

“Krisna pintar.”

“Saya memang tidak pintar, tapi saya mau belajar.”

“Krisna butuh istri yang memahaminya.”

“Hubungan kami berawal dari persahabatan. Kami memahami satu sama lain.”

“Krisna butuh istri yang mau mengurusi keluarga.”

Hilda memutar bola matanya, tak percaya. “Selama ini bila Krisna sakit, saya yang merawat dia.”

Bu Rose kehabisan kata-kata. Sejenak mereka terdiam.

“Saya tidak seperti Ibu. Mungkin selamanya takkan bisa menjadi seperti Bu Rose, menjadi ibu dan istri yang sempurna. Saya tidak cantik. Tidak kaya. Tidak pintar. Tapi kita berdua menyayangi laki-laki yang sama. Percayalah bahwa saya tidak akan menyakiti laki-laki yang sama-sama kita sayangi itu.”

Bu Rose memandanginya dengan seksama. “Kamu sanggup berjanji akan menepati kata-katamu barusan?”

Hilda mengangguk yakin. “Tentu saja. Silakan Ibu marahi saya kapan saja Ibu merasa saya berbohong.”

Bu Rose mengangguk. “Semua ini… bukan berarti aku suka padamu,” kata Bu Rose.

 “Saya tahu.”

“Aku harap aku tidak membuat keputusan yang salah dengan memilihmu.”

“Apakah ini berarti Ibu merestui pernikahan kami? Bagaimanapun, restu dari Ibu sangat penting buat Krisna.”

Bu Rose tersenyum kecil. Kelembutan dan kehangatan memancar dari wajahnya. Sejenak Hilda bisa melihat mengapa kekasihnya sangat menyayangi ibunya. “Ya, aku menerimamu menjadi istri Krisna.”

Hilda balas tersenyum. Beban mahaberat sudah terangkat dari dadanya. “Tentang restu ini… siapa yang akan memberitahu Krisna? Ibu  sendiri atau saya?”

Bu Rose terkekeh. “Aku yang akan mengatakannya sendiri padanya.” Lalu, “Aku pamit dulu.”

Hilda beranjak dari duduknya. “Silakan bila Ibu mau berkunjung lagi.” Ia ragu-ragu sejenak, lalu tersenyum. “Bagaimanapun, seperti saya bilang tadi, kita berdua menyayangi laki-laki yang sama.”

Bu Rose menyentuh pipinya. Hilda memejamkan mata, merasakan angin dingin membelai wajahnya. “Aku tidak akan pernah jauh. Dan ya, aku pasti akan datang lagi. Aku sudah tak sabar ingin punya cucu dan mengunjungi mereka. Tidak apa-apa, kan?”

“Tentu saja. Mereka akan mengenal Ibu sebagai nenek luar biasa, yang sudah membesarkan ayah yang hebat buat mereka.”

Bu Rose tersenyum. Lengkungan di bibir yang sempurna dan kilau di matanya mencerahkan kamar Hilda. Betapa cantik perempuan ini, batin Hilda sambil mengamati sosok Bu Rose pelan-pelan terurai seperti kabut terkena sinar matahari.

Baru setelah wangi mawar benar-benar hilang dari kamarnya, Hilda yakin Bu Rose sudah pergi.




8 komentar:

  1. Hmmm... Tetep sek merinding ae moco ending-e 👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehehehe...

      entah kenapa mood-ku gelap terus, jeng...

      matur nuwun yooo...

      Hapus
  2. keterpaksaan bu Rose.. seperti kehidupan yg tak selalu mulus jalannya.

    BalasHapus
  3. good post mbak, bagi yang punya anak laki-laki boleh tuh ibunya bergaya kaya bu Rose, eh saya juga punya 4 anak2 laki he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. anak saya juga laki-laki, pak...

      terima kasih sudah singgah.

      Hapus
  4. Lhoh !
    Bu Rose ..... ????
    Untung bacae siang" bu Dani.
    Tapi aq gakapok bacae koq bu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh... ya jangan sampe kapok to mbaaaaaakkkk...

      suwun wes mampir yow...

      Hapus