Senin, 18 Juli 2016

HANTU DI PERTANIAN DUNKIRK SIDESTORY : PENANGKAPAN JEB MOORE bagian 8 TAMAT

Sebelumnya  di HANTU DI PERTANIAN DUNKIRK SIDESTORY : PENANGKAPAN JEB MOORE bagian 7




O’Shea merunduk dalam-dalam di balik palung, menunggu rentetan tembakan itu berhenti. Kedengarannya tembakan Jeb Moore mengarah jauh ke arah ladang, tapi ia tak berani mengambil resiko tersambar peluru nyasar.


Lalu mendadak sunyi.

O’Shea memasang telinga baik-baik. Tak terdengar suara apapun. Angin berhenti berhembus. Dunia seakan menahan napas.

Ia bimbang. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Menunggu bantuan, atau berusaha menangkap Jeb Moore sendiri? Ke mana perginya si Hantu?

Apapun itu, ia harus segera menyingkir dari tempat persembunyian ini. Ia tak bisa mengamati sekitar dengan leluasa. O’Shea mengintip dari balik palungan. Diedarkannya pandangan ke sekeliling halaman, siap berlari ke arah pepohonan terdekat.

“Kalau aku jadi kau, aku tidak akan coba-coba kabur.”

Napas O’Shea tersentak. Sebuah logam dingin menempel di tengkuknya. Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu. Jeb Moore.

“Kau tidak akan membunuhku,” sahut O’Shea.

“Tidak?” Dalam kegelapan, O’Shea nyaris bisa melihat Jeb Moore tersenyum. “Well, mungkin memang tidak. Tapi jangan kuatir, aku akan menikmati ini…”

Popor senapan menghantam O’Shea dari belakang. Ia tersungkur.

“… dan ini…”

Sepatu boot Jeb Moore mendarat di punggung O’Shea. Laki-laki itu mengerang sambil berusaha menjauh.
           
“… dan ini… dan ini…”

Jeb Moore menendangi O’Shea seperti kesetanan. O’Shea berguling-guling di tanah. Dua tangannya terangkat, berusaha melindungi kepalanya yang terluka.

“Kamu tak tahu sudah berapa lama aku menunggu kesempatan ini,” kata Jeb Moore terengah-engah, setelah ia puas melampiaskan kemarahannya. Moncong senapannya diarahkan ke kepala O’Shea. Laki-laki itu berbaring tak bergerak di kaki Jeb Moore.

 “Akhirnya…” Jeb Moore terkekeh.

O’Shea memejamkan mata. Anehnya, ia merasa tenang. Kepalanya yang berdenyut-denyut sedari tadi, kini nyaris tak terasa nyeri. Segala rangsangan yang diterima inderanya seakan digandakan berkali-kali lipat. Tekstur tanah tempatnya berbaring. Suara-suara binatang malam. Rasa darah di mulutnya. Bahkan mungkin, andai ia membuka mata, bintang-bintang di langit akan tampak lebih terang.

“Mati kau,” bisik Jeb Moore.
*****

Si Hantu mengamati apa yang terjadi dari balik gerumbul pohon. Dilihatnya Jeb Moore menghajar O’Shea hingga laki-laki itu terbaring tak berdaya.         Apa boleh buat, senapan di tangan Jeb Moore membuatnya ragu-ragu. Salah bertindak berarti mati.

Namun akal sehatnya hilang seketika melihat Jeb Moore sekali lagi mengarahkan moncong senapannya ke kepala O’Shea. Tanpa pikir panjang, ditabraknya tubuh Jeb Moore hingga laki-laki itu terbanting ke tanah.

Terlambat. Senapan Jeb Moore keburu menyalak, dan O’Shea tak bergerak lagi.

Sambil berteriak marah si Hantu menghajar Jeb Moore. Jeb Moore yang sudah hilang kagetnya balik melawan dengan sekuat tenaga. Keduanya bertarung mati-matian dalam gelap. Beberapa kali Jeb Moore berusaha mengarahkan senapannya ke arah Hantu, namun laki-laki itu balas berusaha merebut senapan itu.

Tiba-tiba… “Jangan bergerak! Jatuhkan senjatamu!”

Segerombolan laki-laki bersenjata yang muncul begitu saja dari kegelapan, mengepung mereka. Jeb Moore dan si Hantu masing-masing ditarik menjauh. Seorang di antara mereka merebut senapan dari Jeb Moore. Tanpa berkata apa-apa, laki-laki itu memasang borgol di tangan Jeb Moore.

Entah kenapa mereka membiarkan si Hantu begitu saja, seakan-akan mereka sudah tahu Hantu tidak berbahaya. Seorang laki-laki, mungkin pemimpin mereka, mendekati si Hantu, menyentuh ujung topinya, lalu bertanya, “Anda tak apa-apa?”

Gelagapan, si Hantu menjawab, “Aku… baik-baik saja.”

“Jeb Moore tidak mungkin datang sendiri ke sini. Anda tahu di mana teman-temannya?”

Hantu mengangguk. “Satu orang kuikat di gudang, yang seorang lagi di lumbung.”

Laki-laki itu mengangguk, lalu memberi perintah cepat pada rekannya. Tak lama kemudian, datang laporan, “Yang di lumbung sudah kami amankan, tapi yang ditahan di gudang berhasil lolos.”

Pimpinannya mendecakkan lidah tak sabar. “Yang lolos itu pasti Tom Gage. Tapi tak apa, sebentar lagi pasti tertangkap lagi.”

“Bobby Dunkirk… di mana dia?”

“Jangan khawatir. Dia aman. Berkat Bobby Dunkirk, kami tidak terlambat sampai di sini.”

Setelah mengangguk kecil, laki-laki itu meninggalkan Hantu sendirian.

Sambil setengah melamun, Hantu melihat orang-orang mengamankan Jeb Moore dan Billy Tomkins. Beberapa orang memeriksa tubuh O’Shea, lalu menggotongnya masuk ke dalam rumah. Apa yang terjadi malam ini sulit dipercaya. Tidak nyata. Alangkah senangnya bila saat ini ia terbangun, lalu mendapati semua ini cuma mimpi.

Tapi tidak, ini bukan mimpi, dan ia tak yakin harus bagaimana, atau harus merasa apa. Dalam sekejap mata hidupnya berubah. Entah lebih baik atau lebih buruk, ia tak tahu.

Hantu menghela napas berat. Dipandanginya langit yang pelan-pelan beranjak terang. Semburat warna-warni sudah menghiasi cakrawala, namun satu-dua bintang masih mengerling padanya dari langit tinggi tak berawan. Fajar musim panas yang indah. Fajar yang tak sempat dilihat O’Shea.

Hari baru. Dan mungkin, hidup baru.

Sudah terlalu banyak orang yang tahu tentang keberadaannya.

Ia tak mungkin bersembunyi lagi.

TAMAT

Catatan Penulis:

Sudah lewat cukup lama sejak edisi lampau serial “Penangkapan Jeb Moore” tayang di blog ini. Dengan segala kerendahan hati, saya mohon maaf atas keterlambatan ini. Tanpa bermaksud membela diri, sejak edisi lampau serial ini, saya mengalami writers’ block yang parah. Apa sebabnya, cukup saya dan Lizz saja yang tahu. Berkat dia juga, pelan-pelan saya balik “normal” lagi. Bagaimanapun, tetap butuh waktu sebelum saya kembali “pulih”. Karena itu, bila ada pembaca yang merasa saya belum “fit” benar, alias belum balik sepenuhnya seperti dulu, mohon masukan dan sarannya di kolom komen. Saya berharap, edisi tamat ini bisa memuaskan pembaca yang sudah menunggu tertangkapnya Jeb Moore.

Oya, bila ada pembaca yang penasaran dengan nasib O’Shea dan Hantu, silakan baca lagi serial “Hantu di Pertanian Dunkirk”.

Enjoy reading…


10 komentar:

  1. Peluuuk... Surprise banget lho, mendadak lanjutan ini muncul! 👏 👍 😘

    BalasHapus
  2. good job mbak, ini bukti indahnya persahabatan yang tulus

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, pak...
      semoga tidak kelamaan nunggunya...

      Hapus
  3. Akhirnya panjenengan aktif lg mba Dani. Sy bc ulang serial ini & cerita utamanya. Welcome back!

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih, mas...

      terima kasih juga dukungannya selama ini.

      Hapus
  4. Akhirnya kelanjutannya muncul juga, super Bu! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih ya mbak...

      terima kasih juga sabar nunggu...

      Hapus
  5. Bu Daniiiii abis ngilang eksis lagi !
    Seneng aq bu !
    Aq besuk mau baca lagi dari awal.
    Sekarang komen dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku yo seneng, mbak... :D :D :D

      monggo dibaca dulu sambil ngeloni bayi-bayi... :)

      terima kasih yooo...

      Hapus