Rabu, 06 Januari 2016

HANTU DI PERTANIAN DUNKIRK bagian 2

Sebelumnya di HANTU DI PERTANIAN DUNKIRK bagian 1




Bobby mengepalkan tinjunya, tapi tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. Ia menoleh. Kemarahannya lenyap seketika.


“Apa kabar, Bobby?” tanya Kepala Polisi O’Shea sambil menepuk-nepuk pundak Bobby. “Jeb Moore, kulihat kau meninggalkan sapumu lagi. Kalau sudah selesai menyapu kantorku, jangan lupa terasnya sekalian.”

Jeb Moore pergi, berjalan terseok-seok sambil memaki-maki pelan. O’Shea memperhatikan Jeb sambil menghela napas. “Entah harus kuapakan lagi, Jeb Moore ini. Kalau tidak punya uang, memeras orang. Diberi pekerjaan, malah malas-malasan. Kalau dimasukkan tahanan, aku juga lama-lama kasihan padanya,” keluhnya. Lalu tanyanya pada Bobby, “Bagaimana kabar pamanmu, Nak?”

Bobby menyukai Kepala Polisi O’Shea. Pria ini tegas, berakal sehat, dan baik hati. Tampaknya O’Shea-lah satu-satunya orang di Wilmingshire yang tidak percaya ada hantu di pertanian pamannya. Hanya padanya Bobby bebas bercerita tentang bukti-bukti yang ditemukannya di pertanian Dunkirk.

“Sayang sekali orang-orang ini terlalu percaya tahayul,” kata Kepala Polisi O’Shea sambil menggangguk ke arah orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan. “Daripada menganggur seperti itu, bukankah lebih baik mereka bekerja di pertanian pamanmu? Pamanmu terbantu, mereka juga dapat uang.”

“Bobby, Bobby Dunkirk! Ada surat untuk bibimu!” Petugas kantor pos datang berlari-lari. “Tulisannya jelek sekali, aku hampir-hampir tak bisa membacanya, tapi jelas ini untuk bibimu, Evie Dunkirk.”

Tulisan di amplop surat itu memang jelek sekali.

“Kau sebaiknya cepat pulang, Bobby. Siapa tahu isinya berita penting,” O’Shea mengangguk ke arah surat itu.

“Baik, Tuan O’Shea. Sampai bertemu lagi!” Bobby melompat ke atas kereta dan memacu kudanya secepat mungkin di jalan yang ramai itu.

Bibi Evie sedang menyiapkan makan malam ketika Bobby tiba di rumah. Tanpa melepaskan kuda dari kereta, Bobby berlari ke dapur. “Bibi, ada surat!”

Sambil mengerutkan kening, Bibi Evie menerima surat itu. Setelah membacanya sejenak, raut wajahnya tiba-tiba berubah tegang. “Bobby, mana pamanmu? Cepat panggil!”

Bobby berlari secepat mungkin ke ladang. “Paman! Ayo, pulang! Ada surat penting!”

Ted Dunkirk buru-buru berlari ke rumah. Bobby menyusul di belakangnya.

“Oh Ted, Ibu sakit keras. Kita harus ke rumah Ibu sekarang!” sambut Bibi Evie di serambi. Diulurkannya surat yang baru dibacanya itu pada Ted. Tangannya gemetar. Air matanya berlinang-linang.

Paman Ted membaca surat itu sekilas. “Baik. Bobby, siapkan kuda. Evie, cepatlah berkemas. Kita berangkat sesegera mungkin.”

Untunglah kuda belum dilepaskan dari kereta. Setelah menurunkan belanjaan di dapur, Bobby segera berlari ke kamarnya di lantai atas. Di ruang depan, ia berpapasan dengan Ted. Pamannya itu menghentikan langkahnya, “Mau ke mana kau, Bobby? Bukankah kusuruh menyiapkan kereta?”

“Kereta sudah siap, Paman. Aku mau ke atas, berkemas-kemas.”

“Kau tidak ikut dengan kami, Bobby.” Melihat Bobby terkejut, Paman Ted mengusap kepalanya. “Harus ada yang menjaga rumah dan ladang selama kami pergi, Bobby. Toh hanya beberapa hari. Aku tahu kau baru duabelas tahun, tapi aku tak punya pilihan lain. Hanya kau yang bisa kupercaya. Kau tidak takut hantu, kan?” tanya Paman Ted sedikit bercanda. Mau tak mau Bobby tersenyum.

“Bila melewati kota nanti, aku akan minta O’Shea menengokmu setiap hari,” imbuh Paman Ted sebelum meninggalkan rumah.

Bobby berdiri di serambi sampai kereta lenyap di belokan jalan. Rasanya aneh, berada di rumah Paman Ted sendirian. Baru sekarang Bobby menyadari, ia orang asing di tanah pertanian itu. Sebelumnya ia tak merasa begitu karena ada Paman Ted dan Bibi Evie yang selalu membuatnya merasa betah. Kini ia benar-benar sendirian, dan walaupun Bobby benci mengakuinya, ia sangat ketakutan. Rasa dingin menjalari tubuhnya. 








8 komentar:

  1. Weeesss....makin penasaran. Bersihin tenda dulu ah.... Biar nyaman nunggu lanjutan.
    Btw peserta lainnya mana ya?#celingukan nyari Mbak Lis, Mbak Nita sama Bu Tiwi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan lupa cemilannya, mbak... :D :D :D

      terima kasih sudah mampir...

      peserta lain masih kena macet di jalan, mbak...
      maklum, si komo lewat... :D :D :D

      Hapus
    2. Wooh diabsen toh? :-D
      Nggih hadir lagi. :-)
      Nuwun sewu mau lanjut ke part berikutnya.

      Hapus
  2. terima kasih, pak...

    terima kasih juga mampirnya.

    BalasHapus
  3. Nita hadir bu !
    Bu Tiwi absen sik katae. Gi sakit kecapean.
    Mba Lis ndi yo ?
    Bagian berikute nti hari apa bu ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yoiii hadeeer.. aku udah baca dari tadi pagi, cuma belum sempat ninggal komen.
      Tariiik terus, Jeeeng...

      Hapus
    2. mbak nita...

      oke, catet, hadir.

      terima kasih dah mampir.

      bagian selanjutnya kapan yooo...
      sek belom kepikiran, mbak.

      stay tuned ae yoooo... :D :D :D

      Hapus
    3. jeng lis...

      okay...
      wes ditarik terus diapakno jeng ???

      hehehehehehehe...
      matur nuwun yak...

      Hapus