Rabu, 13 Januari 2016

HANTU DI PERTANIAN DUNKIRK bagian 4

Sebelumnya di HANTU DI PERTANIAN DUNKIRK bagian 3




Bobby buru-buru berganti pakaian, lalu menyelinap keluar lewat pintu dapur. Rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Setelah mengunci pintu dapur dan menyimpan kuncinya dengan cermat di saku celana, ia melompat ke dalam parit kering yang menjulur sampai ke ladang. Dasar parit setinggi lehernya, sehingga ia bisa berjalan dengan leluasa, namun tetap tersembunyi. Dengan begini ia bisa mendekati gerumbul pohon tanpa diketahui.


Pelan tapi pasti Bobby merambat maju. Punggungnya sakit karena berjalan terbungkuk-bungkuk, namun ia tak berani terburu-buru karena bunyi sekecil apapun bisa membuyarkan rencananya. Sedikit lagi, kurang sedikit lagi…

“Membosankan sekali! Masih lama nih, nunggunya?”

Sebuah suara mengagetkannya. Nyaris saja Bobby terpeleset. Rupanya ia sudah dekat sekali! Dengan hati-hati Bobby mengintip dari balik semak yang tumbuh di sepanjang tepi parit.

Tempat itu gelap. Satu-satunya penerangan adalah api rokok yang sedang diisap seseorang di situ. Bobby menghitung sosok-sosok yang duduk di bawah bayang-bayang pohon. Satu, dua, tiga. Ada tiga orang. Mana mungkin ada tiga hantu?

Bobby terheran-heran. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Inikah hantunya? Kok ada tiga orang? Bukankah hantunya cuma satu? Rasanya tidak masuk akal, kalau tiga orang bergantian jadi hantu. Tapi kalau mereka bukan hantu, apa yang mereka lakukan di sini?

Sebuah suara serak menyahut, “Sabar, tinggal satu kali lagi petugas berpatroli, baru kita bergerak. O’Shea sialan itu menyebar begitu banyak petugas cecunguk di sekitar sini.”

Si Perokok menyedot rokoknya dalam-dalam. Sekilas wajahnya diterangi cahaya samar-samar api rokok. “Kau yakin Dunkirk ini sasaran empuk? Pertaniannya saja berantakan begini.” Bobby mengenali suaranya. Rupanya orang ini yang tadi ia dengar suaranya pertama kali.

“Percayalah. Duitnya banyak. Kalau tidak, pasti tanah ini sudah dijualnya dari dulu. Tanah pertanian seperti ini hasilnya tidak seberapa, tapi Ted Dunkirk hidup mewah. Jadi pasti hartanya cukup banyak untuk hidup sehari-hari,” si Suara Serak menyahut.

“Ted sudah pergi?” Si Perokok rupanya masih ragu-ragu.

“Jangan cerewet! Sejak kapan kau jadi penakut begini? Aku lihat sendiri tadi siang Ted dan istrinya pergi. Kan aku sendiri yang atur kepergian mereka pakai surat palsu. Paling cepat mereka baru akan tiba kembali besok sore. Oke? Jadi diamlah. Kamu bikin aku gugup, tahu,” sergah sebuah suara lain yang tak asing bagi Bobby. Darahnya terasa beku. Ini suara Jeb Moore!

“Kalau ketahuan keponakannya, bagaimana? Aku tidak mau kembali ke penjara!”

Jeb Moore terkekeh jahat. “Gampang. Kita bereskan saja.”

Kata-kata Jeb Moore membekukan jantung Bobby. Ia tak ingin ‘dibereskan’ oleh Jeb Moore!

Setelah itu mereka diam lagi. Si Perokok mematikan rokoknya. Tempat itu kini benar-benar gelap. Sebentar kemudian terdengar suara keletak-keletuk kaki kuda mendekat. Bobby pindah ke sisi parit yang lain, lalu mengintip ke jalan raya. Ada dua petugas keamanan berkuda berdampingan. Sejenak mereka berhenti di depan pagar tanah pertanian Ted Dunkirk, lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Betapa inginnya Bobby melompat keluar dari parit, lalu lari secepat-cepatnya ke arah kedua petugas itu! Ingin benar rasanya melaporkan rencana jahat Jeb Moore dan teman-temannya. Biar tahu rasa orang-orang jahat itu! Tapi Bobby tak mampu bergerak. Kakinya lemas, seakan-akan tulangnya hilang semua. Ia juga tak berani berteriak memanggil, karena ketiga orang jahat itu duduk sangat dekat dengannya. Bisa-bisa ia celaka sebelum berhasil minta tolong!

Ketiga orang itu mendengarkan dengan cermat. Setelah kedua petugas itu hilang di tikungan, Jeb bangkit. “Ayo!” ajaknya. Kedua temannya menyusul. Bertiga mereka mengendap-endap ke arah rumah.

Bobby mengintip terus dari balik semak. Setelah ketiga orang itu berjalan lebih dari enampuluh langkah, baru Bobby berani bangkit dari persembunyiannya. Hati-hati ia ambil ancang-ancang melompat, tapi…

Sebuah tangan yang besar membekap mulutnya dari belakang. Bobby memberontak sekuat tenaga, tapi tangan itu lebih kuat. Tubuhnya dicengkeram erat-erat sehingga ia tak bisa lari.



9 komentar:

  1. Hadeeeh... motong episodeneeee...
    *garuk-garuk aspal*

    Lanjooot...

    BalasHapus
    Balasan
    1. lha lapo nggaruki aspal, nyah ?? :D :D :D

      okay...
      segera lanjoooottt...

      matur nuwun...

      Hapus
  2. Jen Moore masih sodaraan sama penyanyi Garry Moore itu ya Mbak?#salah fokus

    Lanjut wis Mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dulu sekampung di wates, mbak dyah... :D :D :D

      siyap lanjut...
      matur nuwun...

      Hapus
  3. Bu Dani kayanya ini pola terbitnya cerbung rabu-sabtu ya ?
    Tambah seru !

    BalasHapus
    Balasan
    1. walah...
      wong ini kebetulan aja ilhamnya nungul pas rabu dan sabtu, mbak...
      mungkin besok2 nungulnya hari lain, siapa tau ??

      sing penting, monggo mengikuti...

      matur nuwun dah mampir yaaa...

      Hapus
  4. Ternyata oknum hantunya baik :-)

    BalasHapus