Sabtu, 15 Oktober 2016

HUJAN



Hujan selalu mengingatkanku padamu.


"Masih hujan?” tanyamu.

Kehangatan tubuhmu menerpa tubuhku yang terbuka, mengalihkan perhatianku dari hujan di balik jendela. Aku tak menjawab: kau tak tertarik pada jawabanku.

Kau menarikku dalam dekapanmu lalu menciumku. Tak ada kelembutan di situ: aku tak mengharapkannya. Tak ada cinta: kita sudah sepakat dari mula.

Kautatap mataku dan kau mengerti. Tubuhku milikmu dan aku percaya padamu. Kau hati-hati, selalu. Jejakmu di tubuhku selalu rapi tersembunyi. Sentuhanmu menyengat tubuhku, mengoyak kulitku, tapi kau tahu sakitku lebih dalam daripada sekedar kulit yang tercabik, atau darah yang menetes, atau bilur-bilur yang membuatku mengaduh.

Seluruh diriku adalah indera yang sekarat. Sentuhanmu, betapapun menyakitkan, menghidupiku. 

Jemari kita terjalin, dan kau berbisik di telingaku, “Lepaskan. Sekarang.”

Maka aku menjerit, menyumpah, memaki dunia yang membuatku menjadi aku.

Pelepasan yang sempurna. 

Sakit batin ditindas sakit fisik. Luka ditutup luka. Seluruh dirimu membalut seluruh diriku. 

Lalu inderaku bernyawa lagi. 

Tak ada yang tahu, tak ada yang peduli. Tak apa. Hanya ada kita dan hujan. Bayangan rinainya bermain-main di dinding. Derapnya di kaca jendela menenggelamkan suara kita. Sejuknya mendinginkan bara tubuh kita.

Saat ini, di sini, aku jadi manusia lagi.

Hujan selalu mengingatkanku padamu. Dan saat-saat singkat ketika aku menjadi manusia.



Untuk CLN. 2013.
Merayakan hari lahir kita.
9-10.10.



4 komentar:

  1. Wuiihhh sekarang jadi apa dong Bu? Hhehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi bidadari... eh, zombie... eh, bidadari... eh, zombie...

      #galau

      hehehehehehehehehe...

      terima kasih mampirnya ya mbak...

      Hapus