Selasa, 25 Oktober 2016

KOBALT BERPISAH JALAN

Sebelumnya : KEPUTUSAN KOBALT



Hugo melolong ketika cakar tajam Kobalt menancap di moncongnya. Dikibas-kibaskannya kepalanya agar cengkeraman Kobalt terlepas. Kobalt berusaha bertahan, paling tidak sampai Master Fufu bisa melepaskan diri.


Manusia-Manusia di gerbang mengamati kepergian mobil yang membawa Matt dengan ekspresi tegang. Tiba-tiba terdengar suitan keras. Seorang Manusia meniup peluit. Serentak Anjing-Anjing menoleh, menghentikan perkelahian, lalu mundur satu persatu ke arah majikan masing-masing. Kucing-kucing mengamati sambil tetap bersiaga. Beberapa mendesis, memamerkan taring.

Tanpa berkata apa-apa, para Manusia meninggalkan halaman, diikuti Anjing-Anjing. Hugo yang terakhir beranjak. “Urusan kita belum selesai,” geramnya pada Master Fufu.

Master Fufu mengibaskan ekornya sambil memamerkan taring. “Kapanpun kau mau.”

Kucing-kucing mengamati kepergian mereka dalam diam. Halaman kembali hening seperti semula.

"Terima kasih,” kata Master Fufu pada Kobalt. “Atas apa yang sudah kaulakukan untuk kami.”

Kobalt menatap Master Fufu. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Ia tak menyahut.

"Jaga nyawamu yang tersisa sebaik-baiknya."

Kobalt tetap diam. Apa gunanya? Ia kehilangan Matt lagi. Mobil yang membawa lelaki itu kian jauh, makin tak terkejar.

"Kau bebas pergi."

Kobalt menatap Master Fufu, tak percaya pendengarannya sendiri. "Sungguh?"

Master Fufu tersenyum lemah. "Kau masih boleh kembali kalau kau mau.”

Kobalt mengedarkan pandangan, berusaha menerakan wajah-wajah yang kini terasa akrab baginya. Baru kali itu ia menyadari betapa miripnya kakak-beradik Felicia dan Felix, yang kali itu memandangnya dengan penuh sayang. Master Fufu, yang tetap berwibawa walaupun jelas menahan sakit. Figaro... yah, tetap Figaro, yang acuh dan tak peduli.

“Kau harus kembali, Nak. Aku belum selesai melatihmu,” geram Figaro. Kobalt berjengit, namun sekilas dilihatnya Figaro tersenyum.

“Pergilah. Temukan Matt.”

Tak perlu disuruh lagi, Kobalt beranjak. Di gerbang ia berhenti, menoleh ke belakang, memandang keluarga barunya, tersenyum lebar, lalu mulai berlari. Makin lama makin cepat, ke arah perginya Matt.

Kobalt tak yakin ke mana harus mencari. Ia hanya mengandalkan kata hati saja. Kata hati yang sama berkata: ia akan kembali. 



2 komentar: